Saya mengenal dia ketika duduk di bangku SMP. Dia tidak tampan tapi banyak yang menyukainya, karena dia begitu baik, ramah, sopan dan mau menolong siapa saja yang membutuhkan. Saya mengaguminya. Mengagumi kebaikan hatinya, mengagumi keluasaan wawasannya, bahkan mengagumi kebesaran hatinya.

Siapa yang sangka dia hanyalah anak dari seorang supir angkutan umum. Banyak prestasi yang dia peroleh sejak SD, sehingga bisa masuk ke SMP favorit dan mendapatkan beasiswa. Dia pun bisa masuk SMA favorit karena segudang prestasi yang dia torehkan ketika bersekolah di SMP. Lagi-lagi beasiswa. Otaknya encer luar biasa.

Lalu, apa yang bisa saya dapatkan dari dirinya? Kepercayaan dirinya yang tinggi. Dia tidak pernah minder dengan keadaannya. Sepatu yang walau butut tapi bersih tak malu ia kenakan. Tas dan bajunya pun tak jauh beda. Tapi dia tetap percaya diri, tidak malu maju ke depan setiap ada kegiatan. Dan hal itu menginspirasi orang-orang sekitarnya agar bisa percaya diri, termasuk saya. Saya, walaupun bisa dianggap dari keluarga yang cukup tapi berasal dari kampung dan besekolah di kota, terkadang merasa tidak percaya diri jika bergaul dengan anak-anak yang penampilannya mentereng. Tapi dia berbeda, dan saya mulai menyadari, ketika seseorang percaya diri, yang biasa-biasa bisa jadi luar biasa.

Setelah lulus SMA dia melanjutkan kuliah di Universitas Swasta yang ada di sekitar rumahnya. Banyak yang menyayangkan hal itu. Banyak yang bilang, emas itu harusnya diasah di tempat yang bagus. Tapi saya percaya, dengan kemampuan dan wawasan serta kepercayaan dirinya, dia mampu mengembangkan dirinya. Saya yakin dia bisa jadi orang yang sukses.

-Laskar 17-

Ibu saya sangat menyukai keteraturan, kerapihan dan kebersihan. Oleh karena itu, sejak kecil saya sudah dibiasakan untuk merawat kebersihan dan kerapihan rumah secara teratur. Begitu bangun pagi, saya harus membereskan tempat tidur dan membuka semua jendela di rumah. Setelah sholat shubuh, saya berbagi tugas dengan kakak perempuan saya. Saya bertugas melap barang-barang di dalam rumah (seperti meja, kursi, televisi, pajangan-pajangan, dll) agar tidak berdebu, lalu menyapu teras depan. Sedangkan kakak saya bertugas menyapu lantai, mengepel, dan mencuci piring.

Ketika saya sedang menyapu teras depan rumah, banyak ibu-ibu yang lewat hendak belanja di warung samping rumah. Dan saya terkadang mendengar mereka mebicarakan saya. Mereka bilang saya anak gadis yang rajin dan ingin anak perempuan mereka pun seperti saya. Suatu hari, ketika saya sedang bermain dengan teman-teman sebaya saya, salah satu dari mereka berkata bahwa ibunya bercerita pula tentang saya, dan akhirnya dia pun sedikit demi sedikit mulai membantu pekerjaan ibunya di pagi hari sebelum berangkat ke sekolah. Saya senang sekali. Teman-teman saya akhirnya bisa ikut membantu membersihkan rumah walaupun hanya melakukan hal yang mudah-mudah saja.

-Laskar 17-